Oleh
: SITI Huroirohmatin,SP.d
Suasana
hari yang cerah. Mentari
seakan malu-malu mengintip dari balik pohon di samping sekolahku.Zaki dan ketiga sahabatnya
bercakap-cakap di depan kelas sambil
mengunyah gorengan
yang baru mereka beli dari kantin.Azul dan teman-temannya
terkenal sebagai anak-anak yang tiap harinya mampu jajan hingga puluhan ribu.
“Hei..., sini! Belikan aku minuman!
Nih uangnya! Cepat ya! Awas, gak pake lama!” perintah pada Azam,
adik kelasnya.
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi.
Mereka bergegas masuk tanpa menghiraukan minuman yang telah mereka pesan.
Mereka takut pada Bu Atin
yang terkenal sangat disiplin. Bu Atin
masuk dengan wajah berbeda. Ada sedikit kesedihan di sudut matanya.
“Anak-anak, hari ini ada berita yang
kurang enak. Teman kita,Faza,
terkena musibah. Kemarin Faza
tertabrak sepeda motor. Kaki kanannya cedera hingga belum bisa berjalan,”
terdengar suara Bu Atin
sedih.
Anak-anak diam. Mereka tak mampu
berkomentar. Hanya mata mereka saling pandang seakan ikut merasakan penderitaan
yang dialami oleh teman terpintar di kelas mereka, yaitu Faza. Faza yang pintar tapi hidup
dalam keluarga yang kurang mampu.
“Kualat, tuh, makanya jangan
sombong! Baru ranking kelas aja sudah sombong,” bisik Zaki.
“Hei..., apa maksudmu? Faza tidak pernah sombong.
Gak salah tuh..., bukannya kamu yang selalu iri pada Faza? Kamu yang sombong,
mentang-mentang anak orang kaya bersikap seenakmu! Berteman juga hanya dengan
golonganmu, iya kan?” sentak Dani
kesal.
“Apa...? Aku iri pada Faza..! Gak level kali...,”
Azul membela diri.
Mendengar suara berisik, Bu Atin berdiri dari tempat
dudukny sambil memandang Zaki
dan Azul yang baru saja
bertengkar.
“Ibu
tak ingin memdengar komentar apa-apa hari ini. Yang harus kita pikirkan adalah
bagaimana kita bisa meringankan beban sahabat kalian, Azul! Ibu akan beri waktu
15 menit untuk kalian bermusyawarah. Ibu tunggu,” kata Bu Atin sambil ke luar kelas.
Setelah Bu Atin ke luar kelas, seperti
biasa, Izim sebagai ketua kelas
maju untuk memimpin kami musyawarah.
“Bagaimana teman-teman, jika ada
yang punya ide, tolong sampaikan sekarang!”
“Sumbang aja, gimana?” usul Arga.
“Wah..., enak kubeli roti bakar dan
es puter!” teriak Zaki.
Semua mata anak-anak memandang asal suara
itu. Zaki akhirnya malu sendiri
dan duduk diam.
“Aku punya usul, ini pun kalau
teman-teman setuju. Bagaimana jika kita membuat program satu minggu tanpa uang
jajan?” usul Faris.
“Program apaan tuh?” teriak Farel.
“Begini, kita dalam satu minggu ini
menahan diri tanpa uang jajan. Nah, uang jajan kita dikumpulkan untuk sahabat
kita, Faza. Apalah artinya uang
jajan kita jika dibandingkan dengan kesembuhan sahabat kita, Faza,” jelas Faris.
Kelas menjadi riuh oleh tepuk
tangan. Tampaknya hampir semua teman-teman setuju dengan usul Faris. Hanya Zaki dan teman-temannya
yang tampak tak puas dengan program itu. Sehari saja tanpa jajan bagi mereka
adalah neraka.
“Enak
saja, masa uang jajanku diserahkan pada Faza,
tak sudi lah yau...! Yang sakit siapa, yang menderita kita,” protes Zaki sambil berbisik pada
temannya.
“Iya nih! Gimana rasanya tanpa uang
jajan? Bisa kering nih, mulutku,” jawab Amel.
Program seminggu tanpa uang jajan
ternyata berlanjut tanpa menghiraukan protes Zaki dan teman-temannya. Bu Atin sangat mendukung
program itu. Bahkan setiap pagi Bu Atin
juga ikut menyetorkan uang pada Faris
sebagai bendahara. Zaki
dan teman-temannya hanya menyetor seribu rupiah dan terkadang mereka tidak
menyetor sama sekali.
Akhirnya program satu minggu tanpa
uang jajan berakhir sudah. Lepas sudah rasanya beban yang menjerat Zaki dan teman-temannya.
Setelah dihitung, terkumpullah uang sebesar empat ratus lima puluh ribu rupiah
hasil kerja keras selama satu minggu melawan rasa haus.
Semua siswa kelas dua hari ini berkunjung ke
rumah Faza, termasuk Zaki dan teman-temannya.
Setelah melewati gang-gang kecil yang kumuh, tibalah mereka di rumah Faza. Terlihat banyak
tumpukan sampah di kanan dan kiri jalan.
Zaki
sengaja berjalan di depan karena ingin melihat penderitaan Faza yang selama ini ia
anggap sebagai saingannya. Setelah Zaki
melihat Faza, tiba-tiba ada
perasaan aneh menyelinap dalam hatinya. Faza
yang selama ini ia kenal ceria dan lincah, kini terbaring lemah di tempat tidur
lusuh tak beralaskan seprai Zaki
seperti tempat tidurnya. Faza
yang selama ini ia anggap musuhnya, kini disuapi ibunya dengan nasi jagung dan
kerupuk di tangan kanannya. Faza yang
selama ini selalu dipuji Bu Atin ternyata
tinggal di tempat yang lebih pantas disebut garasi atau apalah. Ada perasaan
yang aneh yang Zaki
rasakan, tapi ia tak bisa berkata-kata. Terbayang makanan yang mewah dan
buah-buahan segar bertumpuk jika ia sakit, terkadang hingga busuk karena tak
tersentuh.
Zaki
tertunduk. Ia tak lagi menghiraukan teman-teman di sekelilingnya. Suara Bu Atin yang sejak tadi
menghibur Faza
tak ia dengarkan. Tenggorokannya seakan kering dan tercekat. Tubuhnya gemetar.
“Apa yang terjadi padaku?” bisik Zaki dalam hati.
Tiba di rumah, Zaki langsung menjerit
memanggil bundanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bunda zaki bingung. Tak pernah ia
saksikan anak semata wayangnya mengeluarkan air mata beberapa tahun ini.
“Ada apa dengan Zaki?” bisik Bunda dalam
hati.
“Bun..., maafkan Zaki, ya! Selama ini Zaki jadi anak bandel, sering
melawan Bunda. Bun..., Zaki
jahat. Zaki tidak pernah
bersyukur. Zaki
tidak pernah membahagiakan orang lain,” isak Zaki.
Bunda tambah bingung, tapi bercampur
bahagia. Bunda
melihat ada perubahan besar yang terjadi pada diri Zaki. Air mata zaki adalah air mata
terindah yang Bunda saksikan saat ini. Air mata penyesalan dan air mata
pengabdian dari seorang anak yang selalu diimpikan setiap bunda.
“Bunda..., Zaki mohon sekali ini
saja...! Setelah itu Zaki
tidak akan minta apa-apa lagi. Tolong bantu teman Zaki, kini ia terbaring sakit,
Bun! Kakinya cedera. Zaki
yakin jika tak dirawat di rumah sakit ia tak akan cepat sembuh. Plis... Bun,
kabulkan permohonan Zaki!”
pinta zaki di tengah isaknya.
Bunda tersenyum. Tanpa berkata,
Bunda menganggukan kepala.
“Terima kasih Bunda, Ayah pasti setuju
jika Bunda yang meminta. Tolong ya, Bunda!”
“Iya, sayang..., Bunda bahagia
sekali melihat Zaki
seperti ini. Ternyata doa Bunda terkabulkan,
Nak. Selama ini Bunda selalu berdoa buat Zaki
agar menjadi anak yang peduli pada orang lain, saling mengasihi, dan berusaha
untuk membahagiakan orang lain,” jawab Bunda sambil berlinang air mata.
Demikianlah, akhirnya Faza mendapatkan perawatan
yang layak dari orang tua Zaki.
Faza sembuh total dan
kembali ke sekolah dengan ceria. Teman-temannya menyambut dengan suka cita. Zaki memeluk Faza dan berbisik.
“Selamat datang sahabatku. Aku ingin
kita berteman selamanya,” ucap Zaki.
“Terima kasih Zaki. Aku sudah
menganggapmu teman jauh sebelum kamu memintanya,” jawab Faza.
Zaki
dan Faza kembali berpelukan
disertai tepuk tangan yang meriah teman-temannya sekelasnya. Hari ini senyum Zaki benar-benar indah
seindah hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar