Sabtu, 02 Juni 2018

Air Mata Cinta



Oleh : SITI Huroirohmatin,SP.d

            Suasana hari yang cerah. Mentari seakan malu-malu mengintip dari balik pohon di samping sekolahku.Zaki dan ketiga sahabatnya bercakap-cakap di depan kelas sambil mengunyah gorengan yang baru mereka beli dari kantin.Azul dan teman-temannya terkenal sebagai anak-anak yang tiap harinya mampu jajan hingga puluhan ribu.
            “Hei..., sini! Belikan aku minuman! Nih uangnya! Cepat ya! Awas, gak pake lama!” perintah  pada Azam, adik kelasnya.
            Tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Mereka bergegas masuk tanpa menghiraukan minuman yang telah mereka pesan. Mereka takut pada Bu Atin yang terkenal sangat disiplin. Bu Atin masuk dengan wajah berbeda. Ada sedikit kesedihan di sudut matanya.
            “Anak-anak, hari ini ada berita yang kurang enak. Teman kita,Faza, terkena musibah. Kemarin Faza tertabrak sepeda motor. Kaki kanannya cedera hingga belum bisa berjalan,” terdengar suara Bu Atin sedih.
            Anak-anak diam. Mereka tak mampu berkomentar. Hanya mata mereka saling pandang seakan ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh teman terpintar di kelas mereka, yaitu Faza. Faza yang pintar tapi hidup dalam keluarga yang kurang mampu.
            “Kualat, tuh, makanya jangan sombong! Baru ranking kelas aja sudah sombong,” bisik Zaki.
            “Hei..., apa maksudmu? Faza tidak pernah sombong. Gak salah tuh..., bukannya kamu yang selalu iri pada Faza? Kamu yang sombong, mentang-mentang anak orang kaya bersikap seenakmu! Berteman juga hanya dengan golonganmu, iya kan?” sentak Dani kesal.
            “Apa...? Aku iri pada Faza..! Gak level kali...,” Azul membela diri.
            Mendengar suara berisik, Bu Atin berdiri dari tempat dudukny sambil memandang Zaki dan Azul yang baru saja bertengkar.
“Ibu tak ingin memdengar komentar apa-apa hari ini. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita bisa meringankan beban sahabat kalian, Azul! Ibu akan beri waktu 15 menit untuk kalian bermusyawarah. Ibu tunggu,” kata Bu Atin sambil ke luar kelas.
            Setelah Bu Atin ke luar kelas, seperti biasa, Izim sebagai ketua kelas maju untuk memimpin kami musyawarah.
            “Bagaimana teman-teman, jika ada yang punya ide, tolong sampaikan sekarang!”
            “Sumbang aja, gimana?” usul Arga.
            “Wah..., enak kubeli roti bakar dan es puter!” teriak Zaki.
            Semua mata anak-anak memandang asal suara itu. Zaki akhirnya malu sendiri dan duduk diam.
            “Aku punya usul, ini pun kalau teman-teman setuju. Bagaimana jika kita membuat program satu minggu tanpa uang jajan?” usul Faris.
            “Program apaan tuh?” teriak Farel.
            “Begini, kita dalam satu minggu ini menahan diri tanpa uang jajan. Nah, uang jajan kita dikumpulkan untuk sahabat kita, Faza. Apalah artinya uang jajan kita jika dibandingkan dengan kesembuhan sahabat kita, Faza,” jelas Faris.
            Kelas menjadi riuh oleh tepuk tangan. Tampaknya hampir semua teman-teman setuju dengan usul Faris. Hanya Zaki dan teman-temannya yang tampak tak puas dengan program itu. Sehari saja tanpa jajan bagi mereka adalah neraka.
“Enak saja, masa uang jajanku diserahkan pada Faza, tak sudi lah yau...! Yang sakit siapa, yang menderita kita,” protes Zaki sambil berbisik pada temannya.
            “Iya nih! Gimana rasanya tanpa uang jajan? Bisa kering nih, mulutku,” jawab Amel.
            Program seminggu tanpa uang jajan ternyata berlanjut tanpa menghiraukan protes Zaki dan teman-temannya. Bu Atin sangat mendukung program itu. Bahkan setiap pagi Bu Atin juga ikut menyetorkan uang pada Faris sebagai bendahara. Zaki dan teman-temannya hanya menyetor seribu rupiah dan terkadang mereka tidak menyetor sama sekali.
            Akhirnya program satu minggu tanpa uang jajan berakhir sudah. Lepas sudah rasanya beban yang menjerat Zaki dan teman-temannya. Setelah dihitung, terkumpullah uang sebesar empat ratus lima puluh ribu rupiah hasil kerja keras selama satu minggu melawan rasa haus.
            Semua siswa kelas dua hari ini berkunjung ke rumah Faza, termasuk Zaki dan teman-temannya. Setelah melewati gang-gang kecil yang kumuh, tibalah mereka di rumah Faza. Terlihat banyak tumpukan sampah di kanan dan kiri jalan.
            Zaki sengaja berjalan di depan karena ingin melihat penderitaan Faza yang selama ini ia anggap sebagai saingannya. Setelah Zaki melihat Faza, tiba-tiba ada perasaan aneh menyelinap dalam hatinya. Faza yang selama ini ia kenal ceria dan lincah, kini terbaring lemah di tempat tidur lusuh tak beralaskan seprai Zaki seperti tempat tidurnya. Faza yang selama ini ia anggap musuhnya, kini disuapi ibunya dengan nasi jagung dan kerupuk di tangan kanannya. Faza yang selama ini selalu dipuji Bu Atin ternyata tinggal di tempat yang lebih pantas disebut garasi atau apalah. Ada perasaan yang aneh yang Zaki rasakan, tapi ia tak bisa berkata-kata. Terbayang makanan yang mewah dan buah-buahan segar bertumpuk jika ia sakit, terkadang hingga busuk karena tak tersentuh.
            Zaki tertunduk. Ia tak lagi menghiraukan teman-teman di sekelilingnya. Suara Bu Atin yang sejak tadi menghibur Faza tak ia dengarkan. Tenggorokannya seakan kering dan tercekat. Tubuhnya gemetar.
            “Apa yang terjadi padaku?” bisik Zaki dalam hati.
            Tiba di rumah, Zaki langsung menjerit memanggil bundanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bunda zaki bingung. Tak pernah ia saksikan anak semata wayangnya mengeluarkan air mata beberapa tahun ini.
            “Ada apa dengan Zaki?” bisik Bunda dalam hati.
            “Bun..., maafkan Zaki, ya! Selama ini Zaki jadi anak bandel, sering melawan Bunda. Bun..., Zaki jahat. Zaki tidak pernah bersyukur. Zaki tidak pernah membahagiakan orang lain,” isak Zaki.
            Bunda tambah bingung, tapi bercampur bahagia. Bunda melihat ada perubahan besar yang terjadi pada diri Zaki. Air mata zaki adalah air mata terindah yang Bunda saksikan saat ini. Air mata penyesalan dan air mata pengabdian dari seorang anak yang selalu diimpikan setiap bunda.
            “Bunda..., Zaki mohon sekali ini saja...! Setelah itu Zaki tidak akan minta apa-apa lagi. Tolong bantu teman Zaki, kini ia terbaring sakit, Bun! Kakinya cedera. Zaki yakin jika tak dirawat di rumah sakit ia tak akan cepat sembuh. Plis... Bun, kabulkan permohonan Zaki!” pinta zaki di tengah isaknya.
            Bunda tersenyum. Tanpa berkata, Bunda menganggukan kepala.
            “Terima kasih Bunda, Ayah pasti setuju jika Bunda yang meminta. Tolong ya, Bunda!”
            “Iya, sayang..., Bunda bahagia sekali melihat Zaki seperti ini. Ternyata doa Bunda terkabulkan, Nak. Selama ini Bunda selalu berdoa buat Zaki agar menjadi anak yang peduli pada orang lain, saling mengasihi, dan berusaha untuk membahagiakan orang lain,” jawab Bunda sambil berlinang air mata.
            Demikianlah, akhirnya Faza mendapatkan perawatan yang layak dari orang tua Zaki. Faza sembuh total dan kembali ke sekolah dengan ceria. Teman-temannya menyambut dengan suka cita. Zaki memeluk Faza dan berbisik.
            “Selamat datang sahabatku. Aku ingin kita berteman selamanya,” ucap Zaki.
            “Terima kasih Zaki. Aku sudah menganggapmu teman jauh sebelum kamu memintanya,” jawab Faza.
            Zaki dan Faza kembali berpelukan disertai tepuk tangan yang meriah teman-temannya sekelasnya. Hari ini senyum Zaki benar-benar indah seindah hatinya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Pendaftaran SAGUSABLOG

Silahkan isi formulir ini : https://goo.gl/forms/lLxvwrli7s8pP2Q13